PROSES DAN TAHAPAN PEMBENTUKAN PERUNDANG-UNDANGAN
A. Pengertian Pembentukan Undang-Undang
Menurut Bagir Manan peraturan perundang-undangan adalah setiap putusan tertulis yang dibuat, ditetapkan dan dikeluarkan oleh lembaga dan atau pejabat negara yang mempunyai (menjalankan) fungsi legislatif sesuai dengan tata cara yang berlaku.[1]
Menurut Manan peraturan perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang mempunyai (menjalankan) fungsi legislatif sesuai dengan tata cara yang berlaku. Pengertian Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah pembuatan Peraturan Perundang-undangan yang mencakup tahapan perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan atau penetapan, dan pengundangan[2].
B. Proses Pembentukan Undang-Undang.
Landasan kostitusional pembentukan undang-undang setelah amandemen UUD 1945 diatur dalam pasal 20 yang menyebutkan bahwa :
1. Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang
2. Setiap rancangan undang-undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama
3. Jika rancangan undang-undang itu tidak mendapat persetujuan bersama, rancangan undang-undang itu tidak boleh lagi diajukan dalam persidangan Dewan Perwakilan Rakyat masa itu
4. Presiden mrngrsahkan rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama untuk menjadi undang-undang[3]
5. Dalam hal rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama tersebut tidak disahkan oleh Presiden dalam jangka waktu undang-undang tersebut disetujui, rancangan undang-undang itu sah dan wajib diundangkan.
Proses pembentukan undang-undang secara garis besar diatur dalam UUD Tahun 1945 yaitu Pasal 20 ayat (1) DPR memegang kekuasaan untuk membentuk undang-undang (UU), Pasal 5 Ayat 1 tertulis "Presiden berhak mengajukan Rancangan Undang-Undang kepada DPR". Selanjutnya, di dalam Pasal 20 ayat (2) UUD 1945 diatur bahwa setiap rancangan undang-undang (RUU) dibahas oleh DPR dan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama, selanjutnya lebih spesifik diatur dalam UU Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan.
Tahapan pembentukan peraturan perundang-undangan telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan dan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2014 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.
Berikut tahapan yang harus dipenuhi dalam pembentukan peraturan perundang-undangan:
1. Perencanaan Peraturan Perundang-Undangan
Perencanaan penyusunan peraturan perundang-undangan dilakukan dalam Prolegnas yang merupakan skala prioritas program pembentukan Undang-Undang dalam rangka mewujudkan sistem hukum nasional.
2. Penyusunan Peraturan Perundang-Undangan
Rancangan Peraturan Perundang-Undangan dapat berasal dari eksekutif atau legislatif.
3. Pembahasan dan Pengesahan Rancangan Undang-Undang.
a. Pembahasan Rancangan Peraturan Perundang-undangan dilakukan oleh eksekutif bersama legislatif.
b. Rancangan Peraturan Perundang-undangan yang telah disetujui bersama oleh legislatif dan eksekutif disampaikan oleh Pimpinan legislatif kepada pimpinan eksekutif untuk disahkan menjadi Undang-Undang.
4. Pengundangan
Peraturan perundang-undangan harus diundangkan dengan menempatkannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia, Tambahan Berita Negara Republik Indonesia.
5. Penyebarluasan.
a) Penyebarluasan dilakukan oleh DPR Pemerintah sejak penyusunan Prolegnas, Penyusunan Rancangan Peraturan Perundang-Undangan, Pembahasan Peraturan Perundang-Undangan, hingga Pengundangan Undang-Undang.
b) Penyebarluasan dilakukan untuk memberikan informasi dan/atau memperoleh masukan masyarakat serta pemangku kepentingan.
[1] Bagir Manan, Peranan Peraturan Perundang-undangan Dalam Pembinaan Hukum Nasional, (Bandung: Armico, 1987), hal. 13.
[2] Bagir Manan, Peranan Peraturan Perundang-undangan Dalam Pembinaan Hukum Nasional, Bandung, Armico, 1987, hal. 13.
[3] Hendrik Hattu, 2011, “Tahapan Undang-Undang Responsif”, Mimbar Hukum, Vol.23, No.02, hlm. 408
Comments
Post a Comment