cerpen Rindu mimpiku
KERINDUAN
Suatu malam yang dingin
diterpa angin, hujan lebat mulai turun dengan derasnya membasahi tubuh rindu
yang berjalan disepanjang jalan tanpa henti badan kecilnya yang tidak kuat suhu
dingin membuat rindu harus berhenti disebuah rumah tua yang menyeramkan untuk
berteduh. Rindu duduk di sebuah bangku panjang sendirian,di tengah sendiriannya
rindu melihat kearah jendela rumah itu karena rasa penasaran rindu membuat
dirinya mencoba melihat isi dalam rumah tua itu. Dengan terkejutnya rindu
melihat sebuah keluarga kecil yang terdiri dari satu kepala rumah tangga dan
satu orang istri dengan dua orang anak yang masih kecil, betapa bahagia mereka
walaupun miskin tetapi keluarga mereka di penuhi dengan kasih sayang,sampai
dimana rindu teringat dengan keluarga yang dulu.
5
tahun yang lalu.
Namaku rindu anggraini lahir di
rembang dengan keluarga sederhana , aku mempuyai seorang kakak panggil aja
dista lebih tepatnya kakak cerewet karena setiap hari kakaku selalu ngomong
terus bilang ini itu, orang tuaku lengkap dengan ayah ibu tetapi tak seperti
aku bayangkan keluargaku tidak pernah bahagia seperti keluarga orang lain ayah
dan ibuku menikah karena sebuah perjodohan bukan atas keinginan mereka sendiri.
Banyak kekerasan yang terjadi dikeluargaku bisa di bilang itu KDRT. Pagi mulai
tiba matahari mulai terbit memancarkan sinarnya untuk menerangi bumi,
perlahan-lahan ku mulai menarik selimutku dan membereskan kamarku. Langkah kaki
perlahan terdengar menuju kamarku
Rinda :
tok tok (mengetuk pintu dengan keras) rindu bangun udah pagi kok tidur
terus emang kamu tidak sekolah.
Rindu
: aku udah bangun dari tadi kak ( mengerutkan dahinya ) emangnya kakak baru
bangun jam 6.
Rinda
: owh dasar adek , untung kakak bangunin kalau tidak besok kaka tidak mau
bangunin lagi ( muka memerah)
Rindu
: kan emang udah Bangun kenapa harus dibangunin (menculurkan lidahnya)
Rindapun meninggalkan rindu dari
kamarnya merekapun bersiap-siap untuk
pergi ke sekolah. Sebelum berangkat mereka sarapan dan berpamitan kepada ayah
ibu. Rinda dan rindu tak lupa bersalaman dengan kedua orang tua mereka.
Kelihatan bahagia rindu sampai tiba rindu dari pulang sekolah melihat ayah dan
ibunya bertengkar. Di balik pintu rindu mengintip kedua orang tuanya sedang
bertengkar.
Ayah
: dasar kau dari dulu aku tidak pernah mencintaimu ( melemparkan piring
kelantai ) tak butuh ini semua aku.
Ibu
: owh jadi begini kelakuanmu selingkuh dari aku ( memperlihatkan hp kepada
ayah)
Ayah
: emang kenapa urusanmu ikut campur saja urusanku ( berjalan ke ibu menampar
pipinya)
Aku
berjalan mendekati ibu dan memegang tangan ayah .
Rindu
: jangan sakiti ibu sakiti aku saja ( memegang tangan ayah)
Ayah
: anak dan ibu sama saja tidak ada gunanya( melepaskan tangan rindu )
Ayahpun
berjalan meninggalkan rindu dan ibu
Rindu
: kenapa ayah tega menanpar pipi ibu ( memeluk ibu dengan erat)
Ibu
: biarlah ibu yang merasakan ini semua jangan sampai kamu merasakannya (
mengelus kepala rindu )
Rindu mengangkat badan ibu dari
lantai dan membaringkannya di tempat tidur, rindu mengambilkan air untuk ibu.
Rindupun meninggalkan ibu dari kamarnya , setelah kejadian itu ayah beberapa
hari tak pernah kembali ke rumah bahkan sampai satu minggu ataupun lebih
1
tahun kemudian
Setelah ayah meninggalkan kami
beberapa bulan bahkan sampai setahun tidak pernah ada kabarnya, menghilang
entah kemana. Namun kondisi ibu semakin memburuk di tinggalkan ayah, rindu
membawa ibu ke dokter untuk di periksa
Dokter
: maaf dek, ibu adek mempuyai penyakit paru-paru dan itu harus meminum obat
teratur selama enam bulan tanpa henti.
Rindu
: tidak mungkin dok, ibu saya sebelumnya tidak pernah sakit ( menggelengkan
kepala sambil tidak percaya kata dokter)
Dokter
: tetapi itu sudah kehendak tuhan. Berdoa saja sama tuhan agar diangkat
penyakitnya.
Rindu dan ibu keluar dari ruang
dokter dan mereka pergi meninggalkan rumah sakit dan pulang kerumah, rindu
tidak pernah berpikir harus menerima semua cobaan ini dengan apa? Rindu
sepertinya tidak sanggup lagi, rindu harus mengurus ibunya seorang diri karena
kakaknya sedang kuliah di luar kota. Setiap malam ibu selalu merasa kedinginan
dan rindu selalu menyelimuti badan ibu dan membuatkan teh hangat.
Ibu
: rindu ibu kedinginan ( badannya menggigil )
Rindu
: iya bu ( mengambil selimut dan menyelimutkan ke seluruh badan ibu)
Beberapa
hari sudah di lalui tetapi kondisi ibu semakin memburuk dan rindu memcoba
membawa ibu ke rumah sakit lagi. Mereka berjalan ke ruang ugd. Rindu di luar
ruang ugd menunggu dengan cemasnya, tidak selang beberapa lama ada seorang
berjalan mendekat kearah rindu dan ternyata itu adalah rinda kakaknya.
Rinda
: bagaimana keadaan ibu ? ( berjalan mondar-mandir kebingungan )
Rindu
: masih di dalam kak, semoga dokter bisa menanganin dengan cepat.
Rinda
: apa yang terjadi dengan ibu kok kodisinya semakin parah? ( menatap mata kearah rindu )
Rindu
: tidak tahu kak padahal ibu sudah minum obat teratur entahlah, semoga tuhan
memberi kesembuhan kepada ibu.
Tidak selang beberapa lama dokter
keluar dari Ruang UGD.
Rinda
: bagaimana keadaan ibu saya dok? ( menatap mata kearah dokter)
Dokter
: ternyata ibu kamu setelah saya periksa tidak hanya mempuyai penyakit
paru-paru tetapi komplikasi untuk itu ibu kamu harus di rawat di rumah sakit
untuk beberapa hari.
Rinda
dan rindu : iya dok
Perawat memindahkan ibu keruang inap
dan dengan setia mereka menunggu secara bergantian, tak selang hanya satu hari
di ruang inap tepatnya jam 12.00 ibu telah meninggalkan dunia, disaat itu rindu
di luar rumah sakit sampai di rumah sakit rindu masuk ke ruang ibu dan sudah
tidak ada ditempat ibu.
Rindu
: perawat ibu dimana ? kok tidak ada di ruangannya ( menarik tangan perawat)
Perawat
: ibu adek sudah meninggal sekitar jam 12 siang tadi dan sekarang di ruang
jenazah ( jari menunjuk kearah ruang mayat)
Rindu
: itu tidak mungkin ( meneteskan air mata )
Rindu berlari menuju kamar mayat
dengan badan lemas, bagi rindu ini adalah cobaan terbesar dalam hidupnya.
Rindu
: ibu jangan tinggalkan rindu bu ( memegang badan ibu yang dingin )
Rinda
: sudah rindu biarkan ibu tenang disana ( memeluk rindu dengan erat)
Rindu
: Tidak pernah terpikir rindu
harus kehilangan ibu sangat cepat ini ,rindu belum bisa bahagiain ibu kak.
Perawat memindahkan ibu untuk di
mandikan dan di bawa pulang untuk di makamkan , sampai di rumah ibu di sholati
dan di makamkan. Setelah kepergian ibu rinda dan rindu harus tinggal sendiri
untuk melanjukakan hidup mereka. Ayah mereka tidak pernah kembali seperti telah
di telan bumi, Hari demi hari telah di lewati. Pahitnya kehidupan telah mereka
rasakan hidup sendiri tapa orang tua .
Tahun
2019
Banyak hal yang telah berubah
diantaranya mereka yang bisa bertahan
atau di jatuhkan itulah kehidupan dan Bertahan dengan segala hal. Sekarang umur
rindu sudah 21 tahun dan bekerja sebagai pengacara karena keadilan itu harus di
tegakkan, hari ini rindu ada sidang di pengadialan. Dengan tegaknya rindu
berjalan menuju ke ruang sidang dengan gagahnya rindu membela klainnya. Sidang
di menangkan oleh rindu Dan agenda hari ini adalah pulang. Rindu berjalan
menuju halte sampai di halte hujan mulai turun dengan derasnya, rindu menunggu
sangat lama tetapi bus tak kunjung datang sehingga memaksakan rindu harus
berjalan menerjang hujan, berjalan terus mengikuti arah jalan raya tanpa henti.
Sampai di rumah tua rindu berhenti untuk berteduh dan duduk di bangku panjang
sambil melihat kea rah dalam jendela. Tiba-tiba ada seorang membuka pintu dari
dalam
Anak
kecil : kak masuk sini kedalam ( menarik tangan rindu)
Rindu masuk kedalam rumah tua itu
dan disambut dengan hangatnya oleh mereka
Bapak
tua : Sini dek makan bareng kami ( mengambilakan nasi ke piring)
Rindu
: makasih pak ( senyum ke mereka)
Tidak pernah rindu rasakan seperti
ini keluarga hangat dengan penuh kebahagiaan walaupun mereka miskin tetapi
mereka tetap bahagia. Teringat semua tentang keluarga rindu yang dulu yang
selalu ada dan sekarang rindu sangat rindu masa dimana kebahagiaan lebih utama
dari materi, itu tidak bisa tergantikan oleh apapun.
Ketika hati bungkam tak dapat bicara
Namun jangan patahkan
Karena hati itu mudah patah
Selembut awan yang di angkasa
Kebahagiaan itu dari keluarga
yang bisa menerima kamu apa adanya
bukan ada apanya
sekecil apapun keluargamu hargai
mereka
harta bisa dicari namun keluarga tak
bisa diganti
mereka bukan memintan tetapi untuk
diberi
berilah kasih sayang bukan cacian
berilah kebahagian bukan ketakutan
karena ketakutan akan lebih membekas
daripada kebahagian
Comments
Post a Comment